Aswaja An-Nahdliyah

5 March 2016

Nahdlatul Ulama (NU) adalah jam’iyah yang didirikan oleh para Kiai Pengasuh Pesantren. Tujuan didirikannya NU diantaranya adalah : a) memelihara, melestarikan, mengembangkan, dan mengamalkan ajaran Islam Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah yang menganut pola madzhab empat: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali; b) mempersatukan langkah para ulama dan pengikut-pengkutnya; dan c) melakukan kegiatan-kegiatan yang betujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat serta martabat manusia.

NU didirikan notabene oleh para Ulama yang tergabung dalam Komite Hijaz. Para Ulama sepakat mendirikan organisasi beserta namanya yang diserahkan amanat peresmiannya kepada KH. Hasyim Asy’ari setelah KH. Hasyim Asy’ari ber-istiharah. Dan buahnya kemudian beliau mendapat kepercayaan dari gurunya, yakni KH. Mohammad Kholil Bangkalan Madura untuk mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Islam Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah adalah ajaran sebagaimana diungkapkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ بَنِيْإِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقَتْعَلَى ثِنْتَيْنِوَسَبْـعِيْنَ مِلَّةً وَتَفَرَّقَتْ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِيْ النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قَالُوْا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي. رواه الترمذي

Artinya : Abdullah bin Amr berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, kesemuanya akan masuk ke neraka kecuali satu golongan yang akan selamat.” Para sahabat bertanya: “Siapa satu golongan yang selamat itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu golongan yang mengikuti ajaranku dan ajaran para sahabatku.” (HR. Tirmidzi, 2565).

Hadits tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan terlah dihukumi shahih oleh beberapa huffazh, antara lain al-Tirmidzi, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Dzahabi, al-‘Iraqi, Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Sakhawi, al-Suyuthi dan lainnya. Tidak kurang dari enam belas sahabat dan satu dari kalangan Tabi’in yang meriwayatkan hadits tersebut; 1. Abu Hurairah; 2. Abdullah bin Amr bin al-‘Ash; 3. Mu’awiyah bin Abi Sufyan; 4. Auf bin Malik; 5. Anas bin Malik; 6. Ali bin Abi Thalib; 7. Abu Umamah; 8. Ibn Mas’ud; 9. Sa’ad bin Abi Waqqash; 10. Abdullah bin Umar; 11. Abu al-Darda’; 12. Abdullah bin Abbad; 13. Umar bin al-Khaththab; 14. Jabir; 15. Watsilah bin al-Asqa’; 16. Amr bin Auf al-Muzani; 17. Imam Qatadah (Tabi’iy).

Jadi, Islam Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah adalah ajarah (wahyu Allah SWT) disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW kepada sahabat-sahabatnya dan beliau amalkan serta diamalkan para sahabat.

Memang ada yang menilai hadits tersebut mengandung kelemahan. Tetapi bila dijadikan pegangan dan pedoman untuk mengukur pandangan dan perilaku yang dapat dibenarkan ajaran Islam pasti lebih baik dibanding keterangan para pakar yang belum pasti kekuatan dan kebenarannya.

Sikap keberagamaan dan kemasyarakatan Aswaja NU adalah tawassuth dan i’tidal (tengah-tengah), tasammuh (toleran), tawazzun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran).

Tawassuth dan i’tidal adalah sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak pada titik-titik ekstrem. Sikap yang mampu menjumput setiap kebaikan dari berbagai kelompok. Kemampuan untuk mengapresiasi kebaikan dan kebenaran dari berbagai kelompok memungkinkan pengikut Aswaja untuk tetap berada di tengah-tengah.

Di bidang intinbath hukum, tawassuth dan i’tidal berarti selalu seimbang dalam menggunakan dalil, antara dalil naqli dan dalil aqli, antara pendapat Jabariyah dan Qadariyah dan sikap moderat dalam menghadapi perubahan dunyawiyah. Dalam masalah fiqh sikap pertengahan antara “ijtihad” dan taqlid buta. Yaitu dengan cara bermadzhab. Ciri sikap ini adalah tegas dalam dalam hal-hal qath’iyyat dan toleran dalam hal zhanniyyat.

Tawassuth dalam menyikapi budaya ialah mempertahankan budaya lama yang masih baik dan menerima budaya baru yang lebih baik. Namun demikian, kita perlu hati-hati karena kaidah ini yang mengusung adalah Jamaluddin al Afghani, sehingga kalimat “lama yang masih baik” dan “baru yang lebih baik” tentu menurut versinya, dan belum tentu versi kita. Dengan sikap ini Aswaja NU tidak apriori menolak atau menerima salah satu dari keduanya.

Tasammuh adalah sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang menerima kehidupan sebagai sesuatu yang beragam. Keragaman hidup menuntut sebuah sikap yang sanggup untuk menerima perbedaan pendapat dan menghadapinya secara toleran. Toleransi yang tetap diimbangi oleh keteguhan sikap dan pendirian.

Tawazzun artinya seimbang. Keseimbangan adalah sebuah sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang bersedia memperhitungkan berbagai sudut pandang dan kemudian mengambil posisi yang seimbang dan proporsional. Sebagaimana sikap tawassuth, tawazzun juga menghendaki sebuah sikap keberagamaan yang tidak terjebak pada titik-titik ekstrem, misalnya kelompok keagamaan yang terlalu terpaku kepada masa lalu sehingga umat Islam sekarang hendak ditarik ke belakang mentah-mentah sehingga bersikap negatif terhadap setiap ikhtiar kemajuan. Atau sebaliknya, kelompok keagamaan yang menafikan seluruh kearifan masa lalu sehingga tercerabut dari akar sejarahnya. Aswaja menghendaki sebuah sikap tengah-tengah agar tidak terjebak ke dalam ekstremitas.

Amar ma’ruf nahi munkar atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran adalah sebuah konsekuensi dari keyakinan kita terhadap kebenaran Islam ala Ahlissunnah wa al-Jama’ah. Saat ini banyak kelompok Islam yang sikap keberagamaannya tidak menunjukkan mederasi ala Aswaja tapi mengaku-aku Aswaja. Amar ma’ruf nahi munkar ditunjukkan pada siapa saja, muslim maupun non-muslim, yang melakukan kemunkaran dengan menebar perilaku destruktif, menyebarkan rasa permusuhan, kebencian dan perasaan tidak aman, serta menghancurkan keharmonisan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Jika kita memeras kembali keempat nilai ideal tersebut, maka kita akan menemukan satu kata, yaitu moderat yang bisa berarti seimbang, proporsional, dan toleran. Sikap keberagamaan dan kemasyarakatan yang moderat ini melandasi seluruh ajaran Aswaja sejak dulu. Oleh karena itu, maka perbedaan sikap antara kalangan muslim keras atau ekstrem yang saat ini sedang marak dengan sikap moderat kaum sunni tidak hanya terjadi saat ini, tapi sudah ada sejak dulu.

Dalam masalah akhlak, Aswaja NU menggunakan perpaduan antara syaja’ah (berani) dan “ngawur”. Penggunaan sikap tawadlu’ yang merupakan perpaduan antara takabbur (sombong) dan tadzallul (rasa rendah diri). Rendah hati merupakan sikap terpuji sedangkan rendah diri harus dihindari karena tercela.

Paham Aswaja dalam NU mencakup aspek aqidah, syari’ah dan akhlak. Ketiganya, merupakan satu kesatuan ajaran yang mencakup seluruh aspek prinsip keagamaan Islam. Didasarkan pada manhaj (pola pemikiran) Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam bidang aqidah, empat imam madzhab besar dalam bidang fiqh (Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali), dalam bidang tasawuf menganut manhaj Imam Ghazali dan Imam Abu al-Qasim al-Junaidi al-Baghdadi, serta para imam lain yang sejalan dengan syari’ah Islam. Dalam karya Hadratussyaekh KH. Hasyim Asy’ari, “Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah” halaman 9, beliau menyatakan :”Dalam bidang tasawuf sejalan (mengikuti) dengan Imam al-Ghazali dan al-Imam Abi al-Hasan al-Sadzili”.

Asy’ariyah dan Maturidiyah yang dianggap sebagai ajaran tauhid Sunni tidak lain adalah sebuah ikhtiar mencari jalan tengah (moderat) antara ekstremitas Jabariyah dan Qadariyah/Mu’tazilah. Asy’ariyah dan Maturidiyyah juga muncul sebagai respon atas sikap keberagamaan Mu’tazilah yang menganggap semua musuh-musuhnya sesat sehingga semua umat Islam harus mengikuti ajaran Mu’tazilah. Arogansi Mu’tazilah ini dilakukan dengan menggunakan kekuasaan politik negara yang bersifat represif. Kalau saat ini ada kelompok muslim yang menganggap di luar kelompoknya adalah sesat dan hendak memaksakan pendapatnya dengan menggunakan kekuasaan negara (biasanya dengan cara mengislamkan negara), maka sungguh nyata bahwa mereka bukanlah kaum Sunni.

Semangat moderasi juga juga kita temukan dalam empat ulama pendiri mazhab fiqh Sunni (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali). Mereka adalah ulama yang berjuang (ijtihad) untuk merumuskan hukum Islam dengan mencari keseimbangan antara dalil nash dan ra’yu (rasio). Hal ini terlihat semakin jelas dalam pribadi Imam Syafi’i, dimana dia sangat membela hadits shahih, tapi sekaligus juga menganjurkan qiyas (analogi) secara rasional serta merumuskan kaidah-kaidah fiqh yang bersifat logis dan rasional.

Semangat moderasi juga ditemukan dalam tasawuf Sunni. Al-Ghazali adalah salah satu ulama Sunni besar yang berusaha dengan keras menyelerasakan antara syari’at dengan hakikat. Bagi al-Ghazali, syariat atau fiqh tanpa ada muatan tasawufnya menjadikan ibadah kering tanpa ruh, sementara tasawuf yang mengabaikan syariat bisa terjebak dalam kesesatan. Karena itu, maka ada adagium yang sangat terkenal dalam masalah ini, yaitu “man tafaqqaha wala tahawwafa fawad tafassaqa, wa man tashawwafa wala tafaqqaha faqad tazandaqa” (orang yang mengikuti fiqh dengan mengabaikan tasawuf, bisa terperosok dalam kefasikan; orang yang mengikuti tasawuf dengan mengabaikan fiqh, bisa terperosok dalam ke-zindiq-an). Dalam kitab “Iqadzul Himam” syarah al-Hikam karya Ibnu ‘Ujaibah Vol: I hal: 2, Imam Malik menyatakan : “Man tashawwafa walam yatafaqqah faqad tazandaqa, waman tafaqqaha walam yatashawwaf faqad tafassaqa. Waman jama’a bainahuma faqad tahaqqaqa” (barang siapa yang peduli tasawuf tanpa memahami fiqih maka nyata dia zindiq, dan barang siapa yang peduli fiqh tanpa memahami (mengamalkan) tasawuf maka nyata dia faqih, dan barang siapa peduli pada keduanya maka nyata dia telah menyatakan (menemukan) kebenaran”.

Sikap moderat yang diteladani ulama Sunni itu tetap dilanjutkan oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Sepanjang sejarah dakwah Walisongo, kita menemukan sebuah upaya untuk mencari jalan tengah antara ajaran Islam sebagaimana tertera dalam nash dengan kondisi riil yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sikap moderat Walisongo tidak hanya berhasil dalam menyebarkan Islam, tapi juga mampu menghadirkan Islam yang toleran dan damai, bukan Islam yang garang dan menghancurkan (destruktif).

nu-1Referensi : Aswaja An-Nahdliyah; Ajaran Ahlussunnah wa al-Jama’ah yang Berlaku di Lingkungan Nahdlatul Ulama, Tim PWNU Jawa Timur