Sejarah Ika PMII

5 March 2016

Sejarah Ika PMII

Narasi gerakan alumni di kancah nasional hingga lokal

Ika-PMII bertujuan untuk mengembangkan dan mendayagunakan seluruh potensi alumni PMII di berbagai bidang pengabdian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi terwujudnya masyarakat dan bangsa Indonesia yang sejahtera, maju dan mandiri, demokrastis dan berkeadilan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD yang dirildoi oleh Allah SWT. | Pasal 6 Anggaran Dasar Ika PMII

 

Peletakan Batu Pertama Pondasi Pergerakan

Cita-cita bangsa pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya baik material, moral maupun spiritual yang diridloi oleh Allah SWT. Tujuan pembangunan nasional adalah terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera dalam wadah Negara Kesatuan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Tujuan ini bisa dicapai jika seluruh potensi nasional difungsikan secara baik dengan terciptanya situasi yang kondusif bagi setiap komponen bangsa untuk berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dalam berbagai bidang pengabdian berkeyakinan bahwa keterlibatannya secara penuh dalam proses perjuangan dan pembangunan nasional merupakan suatu keharusan. Oleh karena itu, alumni PMII merasa terpanggil untuk mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai usaha menjalankan dakwah Islamiyah dan amar ma’ruf nahi munkar, demi terwujudnya kemasalahatan umat serta tatanan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan yang menjadi cita-cita masyarakat dan bangsa Indonesia.

Alumni PMII berpegang pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang meyakini Islam sebagai sumber kesadaran akan makna, hakekat dan tujuan hidup manusia sekaligus pedoman untuk membedakan yang benar dan salah, agar manusia bisa keluar dari kegelapan dan meraih cahaya kebenaran. Alumni PMII memiliki kehendak kuat untuk mewujudkan manusia yang memiliki kemantapan hubungan dengan Tuhannya, keharmonisan hubungan dengan sesamanya dan keselarasan hubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Dalam rangka mewujudkan hubungan antar bangsa yang adil, seimbang, damai dan saling pengertian, alumni PMII senantiasa mengembangkan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah sekaligus mengemban amanat bagi semakin kokohnya identitas dan jati diri bangsa.

Konsolidasi Gerakan

Bahwa dalam rangka ikhtiar mewujudkan cita-cita kemerdekaan, maka alumni PMII senantiasa mendorong keterlibatan dan pendayagunaan seluruh potensi sumberdaya nasional secara penuh dalam proses perjuangan membangun bangsa dan negara. Oleh karena itu, dengan didorong oleh semangat bersatu membangun bangsa, dengan mengharap ridlo Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka pada tanggal 17 Shafar 1409 H bertepatan dengan tanggal 29 September 1988 M didirikanlah sebuah forum alumni PMII yang diberi nama Forum Komunikasi dan Silaturahmi Keluarga Alumni PMII (FOKSIKA PMII). Kemudian Musyawarah Nasional (Munas) IV FOKSIKA PMII yang berlangsung di Jakarta tanggal 22 – 25 Mei 2008 menetapkan perubahan nama dari FOKSIKA PMII menjadi Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII), sekaligus statusnya ditingkatkan menjadi sebuah organisasi sosial kemasyarakatan.

Munas telah menyepakati nama FOKSIKA diubah menjadi IKA-PMII. Terlepas dari pertimbangan pemilihan kosa kata dan pencarian nama yang lebih pantas dan enak untuk didengar, perubahan nama wadah alumni menjadi IKA-PMII bisa dimaknai sebagai manifestasi dari semangat baru, keinginan baru dan harapan baru untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam sebuah dinamika organisasi yang layak untuk terus menurus didorong.

Momentum ini perlu segera direspon dan dijadikan sebagai tonggak sejarah baru bagi alumni dan kader yang masih aktif di organisasi PMII dimanapun berada. Agar spirit perubahan untuk menjadikan organisasi alumni PMII lebih baik dimasa-masa yang akan datang, tidak menguap dan hilang begitu saja ditelan bumi. Yang terpenting lagi, bagaimana gagasan dan semangat perubahan tersebut dapat direalisasikan dan dirasakan pengaruh positifnya bagi pengembangan organisasi PMII dan bagi para alumni pada khususnya.

 

Oasis Kader Alumni PMII

Kalau kita lihat dalam Kamus Bahasa Inggris, oasis mempunyai dua arti; Pertama wadah dan Kedua sumber ketenangan. Kata oasis cukup mewakili untuk menggambarkan harapan dan cita-cita yang ingin diwujudkan dalam perubahan bagi wadah alumni PMII kedepan. Sebagai wadah, IKA PMII diharapkan benar-benar mewadahi seluruh potensi yang dimiliki oleh alumni PMII yang masih terserak di berbagai tempat dan berbagai penjuru.

Mewadahi bukan berarti harus menjadikannya sebagai pengurus dan bukan pula mewadahi potensi alumni PMII tersebut dalam satu tempat. Tetapi, lebih pada bagaimana potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh kader yang sudah menjadi alumni bisa diberdayakan dan dimanfaatkan bagi kemajuan organisasi dan kepentingan PMII secara umum. Ini berarti, mewadahi adalah menciptakan wadah-wadah baru dan mengaktualisasikan kembali wadah-wadah yang sudah ada atau kalau perlu merebut wadah-wadah yang belum kita duduki. Yang perlu digaris bawahi, baik mengaktualialisasikan wadah, merebut wadah ataupun menciptakan wadah baru harus menghasilkan energi perubahan. Karena perubahan ini merupakan titik tolak untuk melakukan perbaikan. Sebagaimana teori atom, reaksi fusi (bersatunya atom) akan menghasilkan energi dan reaksi fisi (pemisahan atom) akan mengeluarkan energi. Energi itu adalah energi perubahan.

Sahabat Arif Mudatsir Mandan, dalam sambutannya sebagai Ketua IKA PMII saat penutupan Munas memaparkan, bahwa sepuluh tahun yang lalu masih sulit dijumpai alumni PMII yang menjadi anggota DPR/DPRD dan pejabat pengambil kebijakan strategis lainnya. Paling banter saat itu, alumni PMII yang hanya menjadi dosen, itupun tidak menduduki posisi penting dijajaran sivitas akademika. Kalaupun ada, masih terbatas di kampus-kampus Agama Islam seperti IAIN dan STAIN. Berbeda dengan kondisi sekarang, banyak dijumpai alumni PMII menjadi anggota DPR/DPRD, KPU/KPUD, pimpinan eksekutif mulai dari pusat sampai daerah, bahkan ada yang pernah menjadi Wakil Presiden.

Kondisi ini perlu disyukuri dan diberikan apresiasi yang layak untuk sebuah hasil dari proses pengkaderan dan perjuangan. Meskipun pertanyaannya adalah apakah mereka semua menduduki jabatan atau posisi tersebut karena PMII atau bukan. Namun yang terpenting, mereka pernah berproses di PMII dan itu berarti pernah mendapatkan sesuatu dari PMII. Entah itu kecewa, sakit hati, merasa disudutkan atau barangkali mendapatkan pengetahuan yang kemudian merasa bangga dengan PMII. Yang jelas, akumulasi dari proses interaksi yang pernah dilakoni selama aktif di PMII berkontribusi dalam membentuk diri dan kediriannya.

Ini adalah modal awal yang sudah dimiliki oleh IKA PMII, tinggal bagaimana menjadikan organisasi alumni PMII ini benar-benar menjadi oasis dalam pengertian wadah tadi. Apakah menggunakan pendekatan teori reaksi fusi, fisi atau kombinasi dari keduanya. Keadaan organisasi alumni PMII saat ini masih dihinggapi oleh banyak kendala yang perlu segera dipecahkan kalau mau menjadikan IKA PMII sebagai oasis bagi Alumni. Pertama; data tentang jumlah alumni, dimana saja, profesinya apa dan lain sebagainya. Pendek kata, persoalan data alumni ini sangat mendesak kalau IKA PMII mau melakukan perubahan. Bagaimana mungkin organisasi ini akan bergerak dan membuat program kalau anggotanya saja dia tidak tahu. Kedua; Sistem komunikasi dan jaringan yang efektif bagi alumni. Sampai saat ini, pola komunikasi para alumni PMII masih bersifat individual dan konvensional. Kondisi ini sama sekali sudah tidak bisa dipertahankan kembali dimasa yang akan datang. Namun sekali lagi, sistem komunikasi dan jaringan ini tidak dapat terbangun salah satunya karena tidak adanya data alumni tadi. Ketiga; infrastrktur dan suprastruktur organiasasi alumni yang belum terbangun sampai daerah-daerah. Inilah prasyarat yang harus diselesaikan terlebih dahulu kalau mau melakukan perubahan di IKA PMII.

Kalau persoalan dasar ini sudah dapat diselesaikan, maka baru akan kita songsong perubahan untuk melihat dan menjadikan organisasi wadah alumni PMII benar-benar menjadi oasis dalam arti yang kedua, yakni sebagai sumber ketenangan. Menjadi sumber ketenangan karena keberadaan IKA PMII tidak lagi ka adamihi, tetapi benar-benar dirasakan oleh kader dan alumni PMII diseluruh Indonesia. Pengkaderan di PMII sejatinya adalah pengkaderan seumur hidup (long live education), pada tingkat yang lebih mendalam sesungguhnya tidak ada kader dan alumni. Semua masih dalam proses pengakaderan untuk menuju tahapan yang menjadi tujuan PMII. Yaitu, terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

 

Membangun Gerakan Alumni PMII di Jepara

Pondasi gerakan PMII di Jepara telah ditanamkan sejak tahun 1996 oleh beberapa mahasiswa NU di Jepara. Bangunan perubahan terus dibangun di atas pondasi gerakan yang telah tertanam, dan menjadi salah satu muara harapan masyarakat untuk perubahan. Semenjak saat itu, gerakan mahasiswa telah mewarnai dinamika perubahan di Jepara.

PMII juga turut berkontribusi dalam membina kader-kader muda NU sebagai generasi unggul penerus perjuangan bangsa dengan berbagai varian pergerakan. Kini, ratusan bahkan ribuan kader dan alumni PMII Jepara telah terlahir dan terdistribusi dalam berbagai bidang kehidupan, mereka memberikan kontribusinya bagi masyarakat dalam berbagai bidang sesuai pontensinya masing-masing. Meskipun gerakan-gerakan tersebut masih individual, namun harus diakui sentuhan pendidikan kaderisasi selama berproses di PMII telah memberikan bekal dan meneguhkan eksistensinya sebagai agen perubahan sosial.

Dalam konteks alumni PMII, sejarah mencatat bahwa eksistensi alumni PMII di Jepara telah lama hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat meski dilakukan oleh personal tapi mampu eksis dan berkhidmat di berbagai lapangan pengabdian. Kader IKA PMII berdiaspora dimana-mana, baik di lembaga pemerintah maupun pucuk pemimpin organisasi, sebut saja mulai di Pimpinan DPRD, Pejabat tinggi di Birokrasi : Assisten I Pemda, Komisioner KPU, Panwaslu, Ketua KADIN, Ketua MUI, Akademisi (bahkan doktor pertama di Jepara adalah alumni PMII) dan kerja-kerja professional lain. Beragam profesi tersebut adalah peran-peran besar dan kontribusi nyata dari kader dan alumni PMII untuk Jepara.

Alumni PMII bukan hanya telah menjadi saksi atas apa yang terjadi di Jepara, tetapi harus diakui bahwa alumni PMII telah memiliki peran dan kontribusi besar dan telah mempunyai kekuatan besar, berupa sumber daya yang akan sangat menentukan masa depan Jepara. Sudah saatnya alumni PMII mampu melahirkan sosok pemimpin di Jepara yang visioner dan memenuhi harapan masyarakat. Segenap alumni PMII tidak akan berputus asa, senantiasa pantang menyerah, dan yakin bahwa perjuangan yang tulus dan konsisten demi kebaikan niscaya akan mendapatkan perhatian. Ketika kita bersenandung, sungguhpun ditengah gurun pasti akan ada yang mendengarkan.

Untuk mewadahi beragam potensi alumni PMII tersebut, maka dibentuk Forum Komunikasi dan Silaturahmi Keluarga Alumni (Foksika) PMII Jepara pada tahun 2006. Foksika PMII Jepara telah turut berperan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Foksika PMII pada tahun 2008 dan juga menjadi saksi sejarah berubahnya Foksika PMII menjadi Ikatan Alumni PMII (Ika-PMII), selanjutnya pada tahun 2013 Ika PMII Jepara sebagai perubahan dari Foksika PMII Jepara juga terlibat kembali dalam Musyawarah Nasional Ika-PMII.

Untuk periode pertama, nahkoda kepengurusan alumni PMII Jepara diamanatkan kepada Sahabat Mashudi, selanjutnya pada Musyawarah Cabang (Muscab) kedua pada Ahad 12 Juli 2015 bertempat di Kampoeng Wisata Village Resto Jepara dan dihadiri oleh sekitar 70 alumni, Sahabat Muslim Aisha, SHI terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ika PMII Jepara periode 2015-2020. Pergantian ketua Ika PMII Jepara dari Sahabat Mashudi ke Sahabat Muslim Aisha tersebut mirip saat keduanya serah terima jabatan pada saat masih aktif di PMII 17 tahun sebelumnya. Kala itu, Sahabat Muslim Aisha terpilih sebagai Ketua Umum PC PMII Jepara periode 1998–1999 juga menggantikan Sahabat Mashudi yang menjabat Ketua Umum PC PMII Jepara periode sebelumnya.

Sesaat setelah terpilih, Pak Lim (panggilan akrab Sahabat Muslim Aisha) menyampaikan orasinya bahwa PMII Jepara telah menghasilkan banyak kader dan alumni yang tersebar di mana-mana. Keberadaan Ika PMII di Jepara, sangat diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dan bermanfaat bagi lingkungan sosialnya. Dengan terselenggaranya Muscab II Ika PMII Jepara, telah menjadi arena konsolidasi organisasi dan diharapkan dapat mempersatukan alumni-alumni PMII yang ada di Jepara untuk di-manage sehingga menjadi sebuah kekuatan yang bermanfaat bagi kehidupan. Ika PMII adalah rumah kembalinya alumni untuk tetap dapat mengabdi dan menjadi payung sekaligus pusat gerakan perubahan di Jepara. Ruh PMII adalah gerakan, maka rumah besarnya ialah perubahan.

Selain memilih Muslim Aisha sebagai ketua terpilih, Muscab II IKA PMII Jepara juga menetapkan 9 tim formatur untuk menyusun kepengurusan baru. Sembilan tim formatur tersebut yakni Mashudi selaku ketua demisioner, Muslim Aisha sebagai ketua terpilih dan tujuh lainnya adalah H. Abdul Kohar, Wahidullah, Ahmad Rifai, Mayadina Rohmi Musfiroh, Ahmad Makhalli, Harun Salim, dan Subchan Zuhri.

Sembilan anggota Tim Formatur hasil Muscab II tersebut telah selesai menyusun kepengurusan cabang untuk periode 2015-2020 pada 24 Juli 2015, terdiri dari Majelis Pertimbangan, Pengurus Harian Cabang, dan 10 departemen.  Untuk tingkat majelis pertimbangan diketuai Dr. KH. Ahmad Barowi  TM., M.Ag dengan sekretaris Dr. KH Mashudi, M.Ag. Anggota dari majelis pertimbangan terdiri dari 15 orang yang mengakomodasi para alumni PMII senior dari berbagai latar belakang profesi. Dalam jajaran pengurus harian cabang, Muslim Aisha sebagai mandataris terpilih dalam Muscab II ditetapkan sebagai Ketua Umum IKA PMII peiode 2015-2020 dengan Sekretaris Umum diamanatkan kepada Subchan Zuhri, S.Pd.I, Bendahara Umum Abdul Kohar, S.Sos.,I, dan 10 wakil ketua, 10 wakil sekretaris dan beberapa wakil bendahara.

Adapun di bawahnya masih ada 10 departemen yang melengkapi dan memberi support jajaran pengurus harian cabang, yang terdiri dari departemen penataan organiasi dan penguatan jaringan internal, departemen pengembangan dan pemberdayaan potensi kader, departemen informasi, komunikasi dan jaringan eksternal. Berikutnya ada departemen pelayanan sosial dan pengembangan masyarakat, departemen ekonomi dan pengembangan usaha, departemen seni budaya, olah raga, dan pariwisata. Ada pula departemen kajian dan pengembangan pemikiran, departemen pendidikan dan pengembangan SDM, departemen politik dan pemerintahan, serta yang terakhir departemen pondok pesantren.

Dalam menyusun kepengurusan cabang Ika-PMII Jepara tersebut, tim formatur mengakomodasi seluruh potensi alumni yang tersebar di Jepara. Juga merangkul semua angkatan, mulai dari yang paling senior sampai angkatan muda yang baru saja berstatus alumni PMII.

Pelantikan Pengurus Ika PMII Jepara periode 2015-2020 digelar pada Jumat 6 November 2015 bertepatan dengan 24 Muharram 1437 H di Hotel d’Season Bandengan Jepara. Pelantikan tersebut terasa sangat istimewa karena dihadiri langsung oleh Ketua Umum PB Ika PMII, Drs. Akhmad Muqowwam yang juga menjadi anggota DPD RI, dan Sekretaris Jenderal PB Ika PMII, Muh. Hanif Dhakiri, M.Si. yang juga menjadi Menteri Ketenagakerjaan RI. Pelantikan tersebut juga menjadi momentum konsolidasi alumni PMII Jepara, karena dihadiri oleh 250 lebih alumni dari berbagai angkatan.

Ika PMII Jepara berkomitmen untuk terus mendarmabhaktikan diri, baik secara organisasi maupun personal alumni demi kepentingan masyarakat umum melalui peran-peran strategis di berbagai bidang.

Diolah dari berbagai sumber